..
Pilgub Bali, Tarung Koster VS Sudikerta, Siapa Berpeluang Menang?

Pilgub Bali, Tarung Koster VS Sudikerta, Siapa Berpeluang Menang?

Suksesinews.com, Denpasar - Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali akan digelar tahun 2018. Kasak kusuk soal calon gubernur yang akan bertarung menggantikan Made Mangku Pastika nanti mulai memanaskan mesin pertarungan. Beberapa tokoh Bali mulai bermunculan namanya dalam bursa bakal calon gubernur. Dari beberapa nama yang bermuculan, Pilgub Bali diprediksi akan menjadi panggung pertarungan jagoan yang diusung PDIP, I Wayan Koster, melawan ketua DPD partai Golkar Bali I Ketut Sudikerta.


Sudikerta yang sedang menjabat wakil gubernur Bali ini diprediksi akan diusung Koalisi Bali Mandara (KBM) yang disokong oleh beberapa partai politik di Bali. Duel jagoan PDIP dengan KBM itu akan mengukang laga keras pilgub Bali tahun 2013. Ketika itu, duet yang diusung KBM, Made Mangku Pastika- Ketut Sudikerta, menghempaskan jagoan PDIP Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga - Dewa Sukrawan dengan keunggulan suara yang sangat tipis.

Dikinfirmasi secara terpisah pekan lalu, Koster dan Sudikerta menegaskan siap bertarung pada Pilgub nanti. "Mohon dukungannya," ujar Koster usai menyatakan kesiapannya menjadi calon gubernur. Kini sudah muncul deklarasi Koster Bali Satu (KBS) oleh pendukungnya untuk memuluskan perjuangan anggota DPR RI ini. 

Demikian halnya dengan Sudikerta. Putra Mahkota Gubernur Bali ini menyatakan siap menghadapi siapapun lawannya pada Pilgub mendatang. "Siapapun itu, termasuk Pak Koster kita siap hadapi. Karena kita sudah bekerja dan berbuat untuk masyarakat hampir 15 tahun. Biarkan rakyat yang menilai siapa yang akan dijagokan nanti," tegas Sudikerta.

Meskipun Koster sudah curi start dengan mendeklarasikan KBS, Sudikerta tidak mempersoalkan itu. Karena selama ini sudah puluhan tahun turun ke masyarakat dengan Program Bali Mandara yang dicanangkan oleh Gubernur Pastika. Terbukti selama ini Sudikerta setiap turun ke masyarakat selalu banjir dukungan menuju Bali Satu. 

"Kita sudah berbuat untuk rakyat lewat Program Bali Mandara. Kita akan lanjutkan Program Bali Mandara nantinya. Yang bagus akan terus kita lanjutkan dan yang kurang bagus akan kita inovasi lagi," tegasnya.

Peluang Menang

Pengamat Sosial Politik dari LSM Bali Sruti, Dr.Luh Riniti Rahayu, mengatakan, untuk menghadapi Pilgub Bali 2018, partai-partai politik di Bali pada dasarnya sudah mempersiapkan diri sejak selesainya Pilgub Bali tahun 2013. 

"Kini sudah mulai memanas dan figur-figur calon sudah mulai menari-nari untuk menarik simpati partai-partai yang akan mencalonkannya. Partai2 besar maupun kecil pun melalui para kadernya mulai kasak kusuk, apakah ada kemungkinan mencalonkan sendirian atau berkoalisi. Tentu parpol kecil yang tidak mungkin mencalonkan sendiri akan lebih gencar mencari figur dan menawarkan koalisi," kata Riniti di Denpasar, Selasa (1/3).

Soal peluang memenangkan pertarungan nanti, menurut dia, Koster dan Sudikerta memiliki modal politik yang memadai untuk merebut kursi gubernur Bali. "Memang Sudikerta sebagai incumbent tentu memiliki keunggulan daripada pendatang baru. Tetapi tidak bisa diprediksi atau dikatakan Sudikerta lebih kuat daripada koster. Karena masih banyak sekali faktor yang akan mempengaruhi keterpilihan mereka nanti," jelasnya.

Dosen Fisipol Universitas Ngurah Rai dan mantan komisioner KPUD Bali ini melanjutkan,
jika dilihat dari dominasi parpol, maka PDIP sudah menguasai tujuh dari sembilan kabupaten/kota di Bali. "Bila mesin parpol benar-benar bekerja, dipastikan calon PDIP bisa menang. Namun ini bisa terjadi bila PDIP benar-benar mencakonkan figur yang pas, karena pemilih tidak hanya memilih partai, namun juga tergantung figur," tegasnya.

Menurut dia, calon-calon lain yang akan muncul dari koalisi akan sungguh-sungguh memperhitungkan figur. Sebab, jika hanya mengandalkan mesin-mesin parpol yang kecil-kecil dan berkoalisi, itu sungguh sulit. Ia menambahkan, figur calon yang bertarung nanti akan dinilai oleh rakyat, salah satunya dengan membandingkan dengan figur gubernur Pastika. Selain itu, lanjut dia, salah satu faktor yang akan menentukan hasil Pilgub Bali adalah hasil Pilkada Buleleng. "Pilkada Buleleng 2017 akan juga mempengaruhi Pilgub 2018. Karena suara terbesar ada di Buleleng. Karena itu seluruh partai yang akan mengusung calon di Pilgub, pergulatannya dimulai di Buleleng," katanya.

Sementara itu, Pengamat politik dari Undiknas Denpasar, Dr. Nyoman Subanda, mengatakan, pertarungan head "to head " antara Sudikerta dan Koster di Pilgub Bali mendatang, masih terlalu dini diwacanakan. Pasalnya, selain Koster, ada elit PDIP lainnya yang layak diwacanakan sebagai calon gubernur seperti AA Puspayoga dan Rai Mantra. Hanya saja, semua bergantung pada keputusan DPP siapa yang dianggap layak dan setrategis memimpin Bali ke depan.

Tidak kalah pentingnya, dalam menentukan kemenangan, pada posisi wakil gubernur yang akan mendampingi Koster atau Sudikerta. "Secara geopolitik sangat penting termasuk koalisi partai nantinya. Misalkan, apakah Koalisi Bali Mandara, masih solid dan bisa mengulang sukses Pilgub Bali 2013 atau sebaliknya," kata Subanda. Demikian juga, koalisi parpol dan investasi sosial kedua figur di masyarakat, akan menjadi faktor menentukan siapa yang nantinya mendapat dukungan publik

Pemimpin Ideal untuk Bali

Tokoh muda Bali yang kini menjadi anggota DPD RI, Gede Pasek Suardika, mengatakan, Bali ke depan membutuhkan figur pemimpin yang memiliki keteguhan sikap mampu menjaga adat budaya dan sumber daya alam yang dimiliki, tidak dengan mudah menjual kekayaan Bali kepada investor atau siapapun. Menurutnya, tantangan berat ke depan, Bali harus siap bersaing di tengah arus globalisasi seperti masuknya era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Karenanya, figur pemimpin Bali ke depan harus mampu menghadapi semua tantangan itu. "Yang pasti, mampu melihat tekanan yang makin keras terhadap eksistensi Bali dengan segala keunikannya," kata Pasek Suardika.

Dalam pandangannya, Bali memerlukan pemimpin yang mempunyai visi sekuat mantan gubernur mendiang Prof Ida Bagus Mantra. Selain itu, Bali membutuhkan figur yang memiliki keberanian seperti Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.
Tak kalah pentingnya, masyarakat Bali ke depan, mendambakan pemimpin yang memiliki keteguhan sikap seperti ditunjukkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi serta setekun Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini. "Hanya saja, memang sulit mencari gabungan figur-figur begitu," katanya.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI yang namanya dijagokan menjadi calon wakil gubernur mendampingi Sudikerta ini melanjutkan, kendatu sulit, namun yang pasti, masyarakat Bali diingatkan, agar jangan sampai mencari pemimpin yang suka menjual murah Bali.

 "Jangan juga mencari pemimpin bermasalah seperti yang berpotensi terjerat kasus hukum. Sayangnya sistem politik yang ada, membatasi kemungkinan lahirnya pemimpin seperti yang saya sebutkan itu," tegasnya. Amb/suksesinews

Sebelumnya Koster VS Puspayoga, Siapa Direstui Megawati untuk Pilgub Bali?
Selanjutnya Dua Penipu Cantik Beraksi di Facebook