..
Mandikan Keris Untuk Hidupkan Tuan Pusaka
File foto: Anang, Widodo saat menunjukan kerisnya

Mandikan Keris Untuk Hidupkan Tuan Pusaka

Suksesinews.com, Tulungagung - Jamasan Pusoko atau Menjamas atau memandikan keris sangat penting untuk dilakukan dalam perawatan keris atau pusaka.Hal ini bukan hanya semata-mata untuk menjaga daya pamor dan gaibnya saja tapi lebih ke materi keris itu sendiri, sehingga meskipun keris sudah tua tapi tampilannya tetap terjaga.

Keris dan pusaka lainnya yang selalu terawat akan tetap terlihat awet / tidak karatan,
tampilannya indah ,berwibawa dan angker. Pada umumnya para pemilik keris melakukan  perawatan terhadap pusakanya secara berkala. Dan untuk penjamasannya sendiri biasanya dilakukan setahun sekali yaitu pada bulan suro seperti saat ini.

Adat memandikan keris atau pusaka setiap tahun ini sangatlah tepat, karena saat itu keris sudah mulai kotor dan biasanya karat sudah mulai tumbuh sehingga perlu untuk dibersihkan, dan jika di jamas terlalu sering malah akan merusak materi atau fisik dari keris karena adanya gesekan-gesekan saat kita menggosoknya dan juga efek dari bahan-bahan yang digunakan untuk memandikannya.

Menurut Widodo (42) empu keris asal desa Bendilwungu,Tulungagung sebaiknya dalam jamasan menggunakan bahan yang sealami mungkin karena bahan yang alami memiliki kandungan kimia yang kecil sehingga amanbagi bilah keris yang akan dijamas.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembersihan keris antara lain :pace,tumbukan daun nanas,air kelapa yang sudah tua ( untuk merendam bilah), jeruk nipis /air perasan jeruk nipis (untuk mengangkat karat), buah klerek (sebagai deterjen alami untuk membersihkan bilah) dan yang terakhir warangan / bubuk warangan (untuk menghitamkan bilah.

"Keris dimandikan juga mengikuti perkembangan jaman, jika sekarang kleraknya sulit ditemukan maka pemakaian detergen yang berbahan jeruk nipis juga tidak masalah" kata Widodo.

Hal yang sama juga diceritakan oleh empu Uji penjamas keris dari desa Sambijajar bahwa keberadaan bahan pencuci keris mulai langka, bahkan pace atau bentis sebagai alat perendaman terkadang susah dicari.

"Kita berusaha tidak mengganti bahan untuk jamasan, namun terkadang kita kesulitan mencari beberapa bahan itu. Jalan keluarnya antar empu di Tulungagung saling memberi informasi dan saling berbagi bahan apa yang sekiranya sulit di cari" kata empu Uji. Hal itu semata-mata untuk mempertahankan tradisi sekaligus menjadikan keris tidak rusak.

Pertama-tama menyiapkan baskom atau bambu yang akan di gunakan untuk merendam bilah keris.Tempat rendaman di isi dengan air kelapa secukupnya sehingga nantinya bilah dapat terendam sempurna.
Kemudian bilah keris dilepaskan dari genggaman kayunya. Bilah dimasukkan kedalam tempat rendaman hingga semua bagian bilah terendam air kelapa.

"Bilah terendam minimal sehari semalam dan semakin lama semakin bagus karena sebetulnya yang di butuhkan adalah air kelapa,pace,daun nanas" kata Widodo menjelaskan. Bahan itu sangat baik untuk mengangkat warangan dan minyak yang menempel pada bilah pada pencucian tahun sebelumnya.

Proses ini biasanya dinamakan mutih yang nantinya akan mengghasilkan warna bilah yang benar-benar putih seperti perak. Jika ada karat maka di gosok dengan jeruk nipis yang sudah dibelah untuk menghilangkannya kemudian direndam lagi, dilakukan berulang-ulang hingga bilah benar-benar menjadi putih bersih.

Jika bilah telah putih maka diangkat dari rendaman dan dibilas dengan air yang mengalir untuk hilangkan air rendaman. Lalu dikeringkan dengan kain bersih dengan cara ditekan-tekan dan diangin-angin sampai kering.

Sementara itu disiapkan cairan warangan dengan melarutkan bubuk warangan dengan menggunakan air perasan jeruk nipis.
Setelah siap dioleskan cairan warangan pada bilah secara berulang-ulang untuk menghasilkan warna bilah yang kehitaman sehingga nantinya akan menghasilkan warna yang cukup kontras dengan warna pamor yang keperakan.

Setelah itu digosok untuk membersihkan pamor dari sisa warangan sehingga memunculkan warnanya yang putih.
Setelah selesai bilah diangin-anginkan sehari untuk mengeringkannya dan menghilangkan uap panas yang dihasilan oleh warangan.

Saat proses ini empu sangat hati-hati karena warangan adalah zat yang sangat beracun dan memiliki kandungan arsenik yang cukup berbahaya bagi tubuh.

Jika bilah telah menampakkan keindahannya tinggal melakukan tahapan terakhir yaitu memberikan minyak pada keris. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan aroma yang khas pada keris dan juga menahan tumbuhnya karat pada bilah.
Jika semua telah dilakukan maka selesailah proses memandikan / penjamasan keris.Tradisi ini terus dipertahankan oleh empu keris di Tulungagung termasuk ritual sebelum memandikan.

"Puasa minimal sehari semalam dan melekan malam suro menjadi sebiah kewajiban" kata Widodo.

Ditambahkan oleh empu Uji, selain bersih lahir bathin di butuhkan pembacaan mantra sebelum memulai penjamasan. "Bisa kualat jika mantra lupa di baca, mantra di baca untuk memanggil dan permisi terhadap penunggu tiap keris" katanya meyakinkan.

Diantara keris yang di jamas jenis yang umum diantaranya empu Kromo Yadi (sigar menjalin) empu supo (kembang kacang dibawab bengkok) empu Suro (kembang kacang tilam upih) empu Pamengger (bentuknyanya seperti tumbak) empu sendok dan empu panuluh serta ratusan jenis keris lainnya yang tiap Bulan Suro datang ke para empu untuk dijamas dengan mahar. Anang

Sebelumnya Tim SMA 3 Denpasar Dikirim ke Kompetisi Video International
Selanjutnya Pembentukan Propinsi Pulau Sumbawa Masih Terkatung-katung